KEPULAUAN MERANTI, KompasRiau.id — Harapan masyarakat akan layanan kesehatan yang lebih dekat dan layak kembali diuji. Rumah Sakit (RS) Pratama Penyagun yang dibangun dengan anggaran Rp4,2 miliar pada 2024, hingga kini belum juga beroperasi. Bangunan sudah berdiri, namun fungsi utamanya—melayani masyarakat—masih sebatas rencana.

Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar: mengapa fasilitas kesehatan yang telah menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu belum juga difungsikan?

Bangunan Ada, Pelayanan Nihil

Secara fisik, RS Pratama Penyagun disebut telah rampung dibangun. Namun, hingga memasuki 2026, aktivitas pelayanan medis belum berjalan. Tidak ada pasien, tidak ada tenaga medis yang bertugas secara penuh, dan tidak ada operasional sebagaimana mestinya.

Fakta ini memperlihatkan satu ironi klasik dalam pembangunan daerah: proyek selesai, manfaat belum terasa.

Kendala Klasik: SDM dan Perizinan

Dari penelusuran yang dilakukan, penyebab utama belum beroperasinya rumah sakit ini berkisar pada dua persoalan mendasar:

  • Keterbatasan tenaga medis (SDM)
  • Belum rampungnya perizinan operasional

Tanpa dokter, perawat, serta tenaga penunjang yang memadai, sebuah rumah sakit tidak bisa berjalan. Begitu pula tanpa izin resmi, operasional tidak dapat dilakukan secara legal.

Namun, pertanyaan yang muncul: mengapa dua hal krusial ini tidak dipersiapkan sejak awal pembangunan?

Perencanaan Dipertanyakan

Pembangunan fasilitas publik semestinya dilakukan dengan perencanaan matang—tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga operasional. Ketika bangunan selesai namun belum bisa digunakan, maka yang dipertanyakan bukan sekadar teknis, melainkan kualitas perencanaan dan koordinasi antar instansi.

Apakah pembangunan dilakukan tanpa roadmap yang jelas?
Ataukah ada kendala lain yang tidak diungkap ke publik?

Dampak ke Masyarakat

Bagi masyarakat Kepulauan Meranti, khususnya di wilayah Penyagun, kondisi ini tentu merugikan. Akses layanan kesehatan yang diharapkan semakin dekat, justru tetap jauh dari jangkauan.

Hotnews  Dua Sekolah Nasional Terintegrasi Dibangun di Riau, Pekanbaru dan Inhil Jadi Lokasi

Mereka masih harus:

  • Menempuh perjalanan lebih jauh untuk berobat
  • Mengeluarkan biaya tambahan
  • Menghadapi risiko keterlambatan penanganan medis

Dalam konteks kesehatan, keterlambatan bukan sekadar soal waktu—tetapi bisa menyangkut keselamatan.

Menunggu Kepastian, Bukan Janji

Pemerintah daerah disebut tengah berupaya menyelesaikan kendala yang ada, termasuk memenuhi kebutuhan tenaga medis dan mempercepat proses perizinan.

Namun, publik kini tidak lagi hanya menunggu penjelasan—mereka menunggu kepastian kapan rumah sakit ini benar-benar beroperasi.

Sebab setiap hari yang berlalu tanpa operasional, adalah hari di mana investasi publik belum memberikan manfaat nyata.

Penutup: Jangan Biarkan Jadi Monumen Anggaran

Kasus RS Pratama Penyagun menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak berhenti pada peresmian atau serah terima proyek. Esensinya ada pada manfaat yang dirasakan masyarakat.

Jika tidak segera dioperasikan, bukan tidak mungkin fasilitas ini hanya akan menjadi:

simbol pembangunan tanpa fungsi,
atau lebih buruk—monumen pemborosan anggaran.


Catatan Kaki:
Berita ini disusun berdasarkan laporan RiauPos (JawaPos Group) terkait kondisi RS Pratama Penyagun di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Diolah ulang oleh Tim Redaksi KompasRiau.id.


Tagar:

#KepulauanMeranti #RSPratama #Penyagun #Mangkrak #AnggaranDaerah #PelayananKesehatan #BeritaRiau #KompasRiauID