KompasRiau.id – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, masyarakat Kepulauan Meranti mulai dibuat resah oleh lonjakan harga cabai yang menggila di pasaran. Harga cabai merah hingga cabai rawit melonjak tajam dalam waktu singkat dan memicu kepanikan warga, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pedagang kecil.

Pasar-pasar tradisional di Selatpanjang yang biasanya ramai dengan aktivitas tawar-menawar kini dipenuhi keluhan. Warga terkejut melihat harga cabai yang terus merangkak naik hampir setiap hari. Komoditas dapur yang selama ini menjadi kebutuhan utama masyarakat itu kini berubah menjadi barang mahal yang membuat isi dompet warga menjerit.

“Belum masuk hari raya saja sudah setinggi ini. Kalau terus naik, mau masak apa nanti?” keluh seorang ibu rumah tangga sambil menenteng kantong belanja dengan wajah kecewa.

Harga Cabai Tembus Batas

Pedagang mengaku kenaikan harga terjadi cukup drastis dalam beberapa hari terakhir. Cabai merah yang sebelumnya masih berada di harga normal kini melonjak tajam. Begitu juga cabai rawit yang mengalami kenaikan paling terasa akibat tingginya permintaan pasar menjelang Iduladha.

Kondisi itu membuat banyak warga terpaksa mengurangi jumlah pembelian. Jika sebelumnya membeli dalam jumlah besar untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner, kini sebagian warga hanya mampu membeli seperlunya.

Di sejumlah lapak pasar, pembeli terlihat berkali-kali bertanya harga sebelum akhirnya menghela napas panjang dan membatalkan pembelian.

Pedagang Ikut Menjerit

Tidak hanya masyarakat, para pedagang pasar juga berada dalam tekanan besar. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pasokan cabai dengan harga stabil dari distributor.

Sebagai daerah kepulauan yang bergantung pada distribusi dari luar daerah, Kepulauan Meranti sangat rentan terhadap gejolak harga bahan pokok. Ketika pengiriman terganggu atau stok menipis, harga di pasar langsung melonjak tajam.

Hotnews  📰 LEBARAN DI MEJA TAMU, ANCAMAN DI BALIK TOPLES: AHLI GIZI BONGKAR BAHAYA KUE KERING

Pedagang mengaku tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual karena modal pembelian juga terus membengkak.

“Kalau kami jual murah, kami rugi. Tapi kalau mahal, pembeli marah,” ujar seorang pedagang dengan nada pasrah.

Cuaca Buruk dan Distribusi Tersendat

Lonjakan harga cabai di Meranti disebut dipicu kombinasi berbagai faktor. Cuaca buruk yang memengaruhi hasil panen di daerah pemasok membuat stok cabai berkurang drastis. Di sisi lain, distribusi menuju wilayah kepulauan juga mengalami hambatan.

Biaya transportasi yang meningkat turut memperparah kondisi pasar. Akibatnya, harga cabai yang sampai ke tangan pedagang menjadi jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Situasi ini membuat masyarakat mulai khawatir kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga merembet ke bahan pokok lainnya menjelang Hari Raya Iduladha.

Daya Beli Warga Mulai Melemah

Kenaikan harga cabai datang di saat kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya stabil. Banyak warga mengaku mulai kesulitan mengatur pengeluaran rumah tangga karena harga kebutuhan pokok terus naik.

Pelaku usaha kuliner kecil menjadi kelompok yang paling terpukul. Mereka harus memilih antara menaikkan harga makanan atau menanggung biaya produksi yang semakin berat.

Jika kondisi terus berlangsung, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan semakin melemah dan aktivitas ekonomi pasar ikut terdampak.

Warga Desak Pemerintah Bergerak

Masyarakat kini berharap pemerintah daerah segera turun tangan mengendalikan harga pasar sebelum situasi semakin parah. Operasi pasar murah, pengawasan distribusi, hingga stabilisasi stok dinilai menjadi langkah mendesak yang harus dilakukan.

Warga takut lonjakan harga akan semakin tidak terkendali ketika Iduladha semakin dekat. Apalagi permintaan kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat tajam menjelang hari besar keagamaan.

Di tengah persiapan menyambut Iduladha, masyarakat Kepulauan Meranti kini menghadapi kenyataan yang pahit. Bukan hanya cabai yang terasa pedas, tetapi juga tekanan ekonomi yang makin membakar kehidupan warga sehari-hari.

Hotnews  OPEN HOUSE WAWAKO DUMAI DISERBU WARGA, BAKSO DAN TONGSENG JADI FAVORIT